Monatshoroskope Horoskop

Senin, 28 Januari 2013

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran. Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.
Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah. (Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006: 47).
Berdasarkan pengamatan penulis selama ini, pembelajaran IPA yang dilaksanakan di sekolah-sekolah kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir dan menemukan sendiri pengetahuan yang dipelajarinya. Padahal pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. (Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006: 47). Guru sebagai pendidik cenderung mencekoki siswa dengan keterangan-keterangan yang notabene sulit dipahami siswa. Ia terlalu bangga dengan kemampuan yang dimilikinya dan menganggap bahwa guru adalah segala-galanya. Guru adalah yang mahatahu dan siswa harus menurut apa yang dikatakan oleh guru.
Kurangnya pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir dan menemukan sendiri pengetahuan yang dipelajarinya berakibat pada rendahnya minat siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA yang pada akhirnya akan berakibat pula pada rendahnya prestasi belajar IPA siswa. Hal ini bisa dilihat saat siswa mengikuti pembelajaran di kelas. Siswa terlihat malas untuk belajar. Suasana belajar di kelaspun tampak lesu. Siswa merasa enggan untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan guru. Siswa hanya duduk manis dan pasif. Guru yang menjelaskan materi pelajaran tidak dihiraukan lagi. Bahkan sebagian siswa merasa terkantuk-kantuk bila mendengarkan penjelasan guru.
Hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Karena kalau tidak segera ditangani akan berakibat pada rendahnya prestasi belajar siswa. Guru sebagai penanggungjawab keberhasilan belajar harus segera mengambil tindakan dan memikirkan langkah-langkah untuk memperbaiki kondisi belajar peserta didik. Untuk itu guru perlu memikirkan strategi belajar yang mampu pemberian kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir dan menemukan sendiri pengetahuan yang dipelajarinya.
Guru sebagai pendidik sudah harus mulai meninggalkan gaya mengajar lama yang mengeksplorasi pemberian ceramah kepada siswa. Guru harus mulai memikirkan strategi mengajar yang lebih banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa harus aktif dalam pembelajaran. Keterlibatan guru dalam pembelajaran harus dikurangi. Guru jangan terlalu memonopoli pembelajaraan. Ia harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam pembelajaran.
Guru harus segera memperbaiki strategi pembelajaran yang digunakan selama ini. Guru harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan yang dipelajarinya serta berpikir inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. (Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006: 47).
Salah satu metode pembelajaran yang mampu memberikan kesempatan kepada siswa adalah metode pembelajaran inquiry (penemuan). Dalam pembelajaran inquiry (penemuan), siswa didorong untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri, Bruner (1966). Belajar dengan penemuan (inquiry) mempunyai beberapa keuntungan. Pembelajaran dengan inkuiri memacu keinginan siswa untuk mengetahui, memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaannya hingga mereka menemukan jawabannya. Siswa juga belajar memecahkan masalah secara mandiri dan memiliki keterampilan berpikir kritis karena mereka harus selalu menganalisa dan menangani informasi.
Bertitik tolak dari latar belakang permasalahan tersebut di atas maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Meningkatkan Kemampuan Identifikasi Terhadap Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Benda dengan Menerapkan Strategi Pembelajaran Inkuiri dalam Pembelajaran IPA pada Siswa Kelas VI SDN .................. Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang Tahun Pelajaran 2011/2012
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang serta identifikasi masalah di atas, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah cara meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas VI SDN .................. dengan metode ingkuiri?
2.      Apakah metode inkuiri mampu meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas VI SDN ..................?
3.      Apakah metode inkuiri mampu meningkatkan minat belajar siswa kelas VI SDN ..................?

C.     Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
  1. Meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas VI SDN .................. dengan metode ingkuiri.
  2. Mengetahui apakah metode inkuiri mampu meningkatkan prestasi belajar IPA siswa kelas VI SDN ...................
  3. Mengetahui apakah metode inkuiri mampu meningkatkan minat belajar siswa kelas VI SDN ...................

D.     Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat :
  1. Bagi siswa untuk meningkatkan prestasi belajar IPA.
  2. Bagi guru dapat memberikan tambahan pengayaan cara mengajar IPA dengan menerapkan metode inkuiri sehingga proses pembelajaran lebih beragam dan tidak terkesan monoton serta mampu mencapai tujuan pembelajaran dengan baik.
  3. Bagi lembaga dapat dijadikan sebagai bahan masukan informasi tentang salah satu alternatif cara pembelajaran IPA pada siswa dengan metode inkuiri.

E.  Batasan Masalah
Materi pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah memahami  faktor-faktor penyebab perubahan benda.

Selengkapnya silakan download disini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar